Pernah nggak, dapat resep dokter. Suruh cari obat generik. Lo bolak-balik ke apotek, yang ada cuma merek paten yang harganya bisa 5-10 kali lipat. Akhirnya terpaksa beli yang mahal. Atau pulang dengan tangan kosong.
Kita dikasih narasi sederhana: obat generik itu jawaban untuk harga mahal. Tapi di lapangan, ceritanya lain. Obat generik vs. paten ini bukan cuma soal harga. Ini soal sistem yang cacat. Ada perang diam-diam di rak apotek, dan pasien yang kalah.
Logikanya gini: harga makin murah, seharusnya akses makin mudah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Data dari survei Asosiasi Apoteker Indonesia (2025) menunjukkan, di kota-kota besar, ketersediaan obat generik esensial untuk penyakit kronis di apotek swasta merosot hingga 40% dalam 5 tahun terakhir. Kok bisa? Sistem pasar bebas udah membelot.
Investigasi: Rantai Pasok yang Patah di Tengah Jalan
- Kasus “Rosuvastatin” yang Hilang di Rak: Ini obat penurun kolesterol esensial. Versi generiknya harganya cuma Rp 1.500 per tablet di aturan HET. Yang paten? Bisa Rp 12.000. Tanya ke apotek, jawabnya, “Maaf, lagi kosong. Tapi ada yang paten.” Kenapa kosong? Karena margin keuntungan untuk apotek dari obat generik itu sangat tipis, kadang cuma Rp 200-500 per strip. Sementara untuk obat paten, selain margin yang lebih besar, sering ada program insentif dari perusahaan farmasi—bonus, hadiah, target penjualan. Mana yang akan dipajang? Sekarang lo ngerti. Sistem pasar bebas obat ini justru meminggirkan obat murah.
- Distributor yang Ogah Angkut Barang “Nganggur”: Bayangin jadi distributor. Punya gudang terbatas. Pilihan: isi dengan obat paten yang cepat laku dan margin bagus, atau isi dengan obat generik yang margin tipis dan apotek juga ogah pesan banyak. Pilihannya jelas. Akibatnya, obat generik tercapai harganya, tapi tidak terjangkau secara fisik. Dia terjebak di gudang pabrik. Akses obat esensial macet di tengah jalan.
- Dokter yang Terjepit antara Resep dan “Edukasi” Sales: Dokter wajib menulis resep generik. Tapi dalam keseharian, siapa yang rajin datang ke klinik mereka? Sales representative dari farmasi besar dengan produk paten, lengkap dengan brosur dan sampel. Edukasi tentang obat generik? Hampir nggak ada. Tanpa disadari, dokter jadi lebih akrab dengan nama paten. Dan pasien yang bingung, akhirnya menyerah dan beli yang paten.
Ini lingkaran setan. Tapi sebagai pasien, lo nggak cuma bisa ngeluh.
Common Mistakes Pasien & Keluarga:
- Langsung Terima Kondisi “Kosong”: “Ya sudah, beli yang paten aja.” Tanpa usaha lebih. Padahal, kepasifan kita mengukuri sistem yang rusak.
- Tidak Memperjuangkan Hak Resep: Nggak berani meminta dokter menuliskan dengan jelas nama generiknya, dan menanyakan alternatif apotek yang biasanya lengkap. Kita takut dianggap sok tahu.
- Menganggap Semua Apotek Sama: Langsung nyerah setelah coba 1-2 apotek. Padahal, apotek milik rumah sakit pemerintah atau koperasi seringkali punya stok generik lebih lengkap karena ada aturan dan insentif yang berbeda.
Tips Praktis Mencari dan Memperjuangkan Obat Generik:
- Jadi Detektif Resep: Tanya Nama Generik dan Kode INN: Saat dapat resep, tanyakan ke dokter, “Ini nama generiknya apa, ya?” Catat nama International Nonproprietary Name (INN)-nya (misal: Omeprazole, Amlodipine). Itu kunci buat cari. Jangan hanya baca merek dagang.
- “Telepon Dulu” Sebelum Keliling: Punya daftar 5-7 apotek di wilayah lo. Telepon satu per satu, tanyakan spesifik: “Selamat siang, apakah ada obat Amlodipine 10mg generik merek X?” Hemat tenang dan waktu. Apotek yang baik akan jujur.
- Laporkan Kelangkaan dan Dukung Apotek “Pemberani”: Kalau apotek tertentu selalu punya stok generik lengkap, dukung mereka. Jadilah pelanggan setia. Sebaliknya, kalau apotek besar selalu bilang kosong, ada baiknya melapor ke Dinas Kesehatan setempat via aplikasi atau media sosial. Data keluhan warga itu penting untuk tekanan.
Pada akhirnya, obat generik vs. paten ini perang ekonomi yang kita bayar dengan kesehatan. Pemerintah punya kebijakan harga, tapi sistem pasar bebas obat tanpa regulasi distribusi yang kuat hanya akan membuat obat murah itu seperti hantu—ada dalam aturan, tapi nggak ada di rak.
Kita butuh sistem yang memberi insentif benar-benar sampai ke apotek untuk menjual generik. Bukan sekadar memaksa harga murah, lalu membiarkannya mati di pasaran.
Kalau bukan kita yang memperjuangkan akses obat murah ini, siapa lagi? Mulai dari resep di tangan kita sendiri.

