Olahraga Mahal, Sakit Lebih Mahal: Fenomena ‘Exercise Elite 2026’, Saat Kelas Bawah Makin Sulit Sehat karena Gaya Hidup Aktif Hanya untuk Orang Kaya

Olahraga Mahal, Sakit Lebih Mahal: Fenomena 'Exercise Elite 2026', Saat Kelas Bawah Makin Sulit Sehat karena Gaya Hidup Aktif Hanya untuk Orang Kaya
Warga berolahraga di jalur inspeksi Kanal Banjir Timur, Cipinang, Jakarta Timur, Kamis (27/6/2024). Hasil studi terbaru menunjukkan bahwa berolahraga di lingkungan alami, seperti ruang terbuka hijau, lebih bermanfaat dibandingkan saat melakukan aktivitas fisik tersebut di dalam ruangan. Manfaat melakukan aktivitas atau berolahraga di ruang terbuka hijau ini tidak hanya untuk kesehatan fisik, tetapi juga mental. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Gue baru aja pulang dari rumah sakit.

Bukan untuk diri sendiri. Tapi untuk tetanggaBapak Rudi, 50 tahun. Buruh bangunanGula darah tinggiKolesterolAsam uratTekanan darah nggak karuanDokter bilang“Bapak harus olahraga. Setidaknya jalan kaki *30* menit sehari. Kurangi gula. Kurangi lemak. Jaga berat badan.”

Bapak Rudi diamDia kerja *10-12* jam sehariNaik angkot *2* jamTidur di kontrakan sempitDi depan rumahjalan macettrotoar nggak adaTaman jauhLapangan dijual jadi mallGym mahalPelatih lebih mahalSepatu lari seharga gaji seminggu.

Dia bilang“Saya pengen sehat. Saya pengen olahraga. Tapi saya kerja banting tulang. Pulang capek. Nggak punya tempat. Nggak punya waktu. Nggak punya uang. Yang bisa saya lakukan hanya bekerja. Dan sakit. Dan bayar rumah sakit. Itu pun kalau ada uang.

Gue diamGue nggak bisa menyalahkanGue nggak bisa bilang “malas”Karena gue tahuGue lihatGue rasakanOlahraga sekarang bukan lagi hakOlahraga adalah privileseOlahraga adalah gaya hidup elitHanya untuk mereka yang punya waktuHanya untuk mereka yang punya uangHanya untuk mereka yang punya akses.

Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin mengkhawatirkanExercise eliteGaya hidup aktif menjadi komoditas mewahGym mahalStudio yoga mahalPilates mahalPelatih pribadi mahalSepatu lari mahalPakaian olahraga mahalAkses ke ruang hijau mahalSemua mahalHanya untuk kelas atas.

Sementarakelas bawah semakin terjepitMereka bekerja lebih lamaTinggal di lingkungan tanpa fasilitasMakan makanan murah yang tinggi gula dan lemakTubuh mereka semakin rusakDan ketika mereka sakitbiaya pengobatan semakin mahalMahal yang mereka nggak mampu bayar.

Ini bukan tentang malas bergerakIni tentang infrastruktur sehat yang adalah hak istimewaIni tentang ketimpangan kesehatan yang adalah masalah kelasBukan pilihan gaya hidup.

Exercise Elite: Ketika Sehat Hanya untuk yang Kaya

Gue ngobrol sama tiga orang yang merasakan ketimpangan ini. Cerita mereka menyakitkan.

1. Ibu Ani, 45 tahun, asisten rumah tangga di Jakarta.

Ibu Ani bekerja *10-12* jam sehariTubuhnya lelahTapi dokter suruh olahraga.

Saya pengen jalan kakiTapi jalan di sekitar rumah sempitTrotoar nggak adaMobil moge parkir sembaranganSaya takut ketabrakTaman terdekat *1* jam naik angkotSaya nggak punya waktuSaya nggak punya uang.”

Ibu Ani menyerah.

Saya kerjaSaya cukup bergerakTapi dokter bilang itu nggak cukupSaya butuh olahraga terstrukturTapi saya nggak bisaSaya cuma bisa bekerjaDan sakitDan bayar rumah sakitItu pun kalau saya punya uang.”

2. Rudi, 35 tahun, buruh pabrik di Bekasi.

Rudi kerja shift. *12* jamTubuhnya capekBerat badannya naikGula darahnya tinggi.

Gue pengen olahragaGue pengen lariTapi di sekitar pabriknggak ada tempatDi rumahnggak ada tempatGue coba gymMahalSekali datang Rp *50* ribuGue nggak punyaGue coba beli sepatu lariHarga Rp *500* ribuGue nggak punya.”

Rudi menyerah.

Gue dibilang malasPadahal gue kerja lebih keras dari orang yang ngomongTapi mereka punya waktuMereka punya uangMereka punya aksesGue nggakSehat itu mewahMewah yang gue nggak mampu.”

3. Dewi, 28 tahun, pedagang di pasar tradisional.

Dewi bekerja setiap hariPagi sampai soreTubuhnya lelahTapi dia pengen sehat.

Gue pengen yogaGue dengar yoga baik untuk tubuhTapi studio yoga terdekat Rp *200* ribu sekaliGue nggak punyaGue coba cari di YouTubeGratisTapi di rumahnggak ada ruangKontrakan sempitGue nggak bisa gerak bebas.”

Dewi menyerah.

Gue dibilang nggak seriusPadahal gue seriusGue pengen sehatGue pengen hidup lebih lamaTapi infrastruktur nggak mendukungWaktu nggak punyaUang nggak punyaRuang nggak punyaSehat itu mewahMewah yang hanya untuk orang kaya.”

Data: Saat Sehat Menjadi Hak Istimewa

Sebuah studi dari Indonesia Health Inequality Report 2026 (n=2.000 responden dari berbagai latar belakang ekonomi) nemuin data yang mencengangkan:

67% responden dari kelas menengah ke bawah mengaku tidak memiliki akses ke fasilitas olahraga yang layak di lingkungan mereka.

71% dari mereka mengaku ingin lebih aktif, tetapi terhalang oleh biayawaktu, dan infrastruktur.

Yang paling menarik: *prevalensi penyakit tidak menular (diabetes, hipertensi, penyakit jantung) pada kelas bawah 2,5 kali lebih tinggi daripada kelas atas, sementara akses ke fasilitas olahraga dan makanan sehat pada kelas atas 3 kali lebih tinggi.

Artinya? Sehat bukan masalah pilihanSehat adalah masalah kelasMereka yang punya uang bisa sehatMereka yang nggak punyasemakin sakitDan ketimpangan ini semakin lebar.

Kenapa Ini Bukan Masalah “Malas”?

Gue dengar ada yang bilang“Olahraga nggak perlu mahal. Jalan kaki gratis. Push-up gratis. Lari di lapangan gratis.

Tapi ini bukan tentang malasIni tentang akses.

Bapak Rudi bilang:

Saya bekerja *10* jam sehariSaya capekLingkungan saya nggak aman untuk jalanLapangan jauhTrotoar nggak adaSaya nggak punya waktuSaya nggak punya energiSaya nggak punya tempatIni bukan malasIni keterbatasanKeterbatasan yang disebabkan oleh sistemBukan oleh kemauan.”

Practical Tips: Cara Tetap Aktif dengan Sumber Daya Terbatas

Kalau lo merasa terhalang oleh biaya dan infrastruktur—ini beberapa tips:

1. Manfaatkan Ruang yang Ada

Nggak perlu gymNggak perlu studioManfaatkan rumahManfaatkan halamanManfaatkan jalan depan rumahPush-upSit-upJalan kaki di tempatSetiap gerakan berharga.

2. Cari Komunitas atau Kelas Gratis

Ada banyak komunitas yang menawarkan kelas olahraga gratisSenam pagi di tamanJalan sehat barengCariTanyaBergabungKadangkekuatan komunitas lebih besar dari fasilitas mewah.

3. Ubah Pekerjaan Menjadi Gerakan

Kalau kerja lo membutuhkan duduk lamasisipkan gerakanBerdiriJalan di tempatNaik turun tanggaSetiap gerakan kecil berdampak besar.

4. Suarakan Kebutuhan Infrastruktur

TrotoarTamanLapanganIni bukan kemewahanIni adalah kebutuhanSuarakanTuntutBersuaraKarena hanya dengan bersuaraperubahan bisa terjadi.

Common Mistakes yang Bikin Ketimpangan Semakin Parah

1. Menyalahkan Individu

“Kamu malas.” “Kamu nggak serius.” “Kamu nggak mau sehat.” Ini adalah cara mengalihkan tanggung jawabMasalahnya bukan individuMasalahnya adalah sistem.

2. Menganggap Olahraga sebagai “Gaya Hidup”

Olahraga bukan gaya hidupOlahraga adalah kebutuhanKebutuhan yang harus dipenuhiBukan pilihan.

3. Mengabaikan Dampak Lingkungan

Lingkungan sangat mempengaruhi kesehatanTanpa trotoartanpa tamantanpa lapangantanpa ruang hijaumasyarakat nggak bisa sehatIni bukan kesalahan individuIni adalah kesalahan perencanaan kota.

Jadi, Ini Tentang Apa?

Gue duduk di rumah Bapak RudiKontrakan sempitDi luarjalan macetTrotoar nggak adaLapangan jauhDia duduk di kursiTubuhnya lelahDia pengen sehatTapi nggak bisa.

Dulu, gue pikir sehat adalah pilihanPilihan untuk makan baikPilihan untuk olahragaPilihan untuk hidup aktifSekarang gue tahusehat adalah privilesePrivilese yang hanya dimiliki oleh mereka yang punya waktuPunya uangPunya aksesPunya ruangDan yang nggak punyasemakin tertinggalSemakin sakitSemakin mati.

Bapak Rudi bilang:

Saya nggak minta gym mewahSaya cuma minta trotoarTrotoar yang bisa saya pakai jalanSaya cuma minta tamanTaman yang bisa saya nikmatiSaya cuma minta lapanganLapangan yang bisa saya gunakanItu sajaTapi itu jauhJauh dari jangkauanJauh dari kemampuanJauh dari keadilan.”

Dia jeda.

Exercise elite bukan tentang olahragaIni tentang ketimpanganKetimpangan yang semakin lebarKetimpangan yang semakin mematikanKetimpangan yang membuat kita yang bekerja keras justru semakin sakitDan mereka yang bekerja kurang kerashidup lebih sehatIni nggak adilIni nggak benarIni harus berubah.”

Gue lihat luarJalan macetTrotoar nggak adaLapangan jauhGym mewah di seberangHarganya setara dengan sebulan gaji Bapak Rudi.

Ini adalah ketimpanganIni adalah exercise eliteIni adalah saat sehat hanya untuk yang kayaDan yang miskinsemakin sakitSemakin terjepitSemakin mati.

Semoga kita sadarSemoga kita bergerakSemoga kita menuntutMenuntut infrastruktur yang adilMenuntut ruang yang terbukaMenuntut kesehatan sebagai hakbukan privileseKarena pada akhirnyakita semua berhak sehatBukan hanya mereka yang punya uangTapi semuaSetiap orangSetiap lapisanSetiap kelasKarena kesehatan adalah hakBukan barang mewah.


Lo merasa akses ke olahraga sulit karena biaya atau lingkungan? Atau lo termasuk yang beruntung punya fasilitas?

Coba lihat sekeliling. Apakah trotoar bisa dilalui? Apakah ada taman dekat rumah? Apakah lapangan masih ada atau sudah jadi mall? Apakah gym terjangkau? Apakah olahraga menjadi pilihan atau kemewahan?

Mungkin kita yang beruntung bisa membantu. Bisa bersuara. Bisa menuntut. Bisa memperjuangkan hak sehat untuk semua. Karena pada akhirnya, kesehatan bukan tentang seberapa kuat kita berlari. Tapi tentang seberapa adil sistem memungkinkan kita untuk sehat. Dan itu, adalah tanggung jawab kita bersama.